spring

Jumat, 12 Juli 2013

Angels in Rebels of Rinjani (Part 2)


3 Juni 2013. Pagi yang cerah cenderung panas kami bersepuluh berangkat meninggalkan basecamp, ditemani Bang Kuntet, Bang Jamil, & Bang Deco. Terik matahari nggak menghalangi saya untuk tidur di perjalanan. Tutup muka pake topi, maka nyenyaklah saya.  Jangan tiru adegan ini di rumah ya.. :D

Foto dulu sebelum berangkat, bareng anak-anak PAS & keluarga (photo by Eling)



Mobil yang membawa kami ke Sembalun (photo by Sam)
Saya baru terbangun ketika mobil melintasi hutan. Kadang-kadang kami bertemu monyet yang gendut-gendut nan lucu, beda banget sama monyet Sarimin.Sekira jam 2 siang kami mulai nanjak (lama banget yak?) Sebenernya sampe Sembalun jam 12 siang, terus makan siang & sholat, baru lanjut lagi jam 2.

Sepanjang perjalanan menuju pos 1, trek masih berupa padang-padang terbuka. Kami berjalan sambil kadang ber-say hei-hai dengan bule-bule yang turun lewat Sembalun. Lumayan buat nambah-nambah di CV di bagian ‘active speaking English’. :p

Somewhere outhere menuju pos 1

Puncak Rinjani dari savana Sembalun

Merepih Alam

Setelah pos 1, padang-padang mulai ditumbuhi rerumputan yang tinggi. Dari jauh seperti sawah yang menguning..! Langit luas yang biru bikin saya pingin terbang…!! (memang bisa..? berenang aja kagak). Di pos 2 terdapat mata air, yang orang mesti turun ke bawah kalau mau ngambil. Sempat ketemu beberapa tim lain juga di pos 2, yang sama-sama sedang istirahat. Akhirnya, sekira pukul 6 sore, kami tiba di pos 3. Karena hari mulai gelap, tenda segera didirikan. Di cahaya yang remang-remang itu, saya melihat..
Beberapa kerlip bintang yang bersinar terang. Semoga seterusnya secerah ini, doa saya. Dan betulah, malam itu bintang-bintang bak ketombe butir kristal yang ditaburkan di atas langit malam lalu dibingkai perbukitan yang berjajar di bawahnya. I really wish I could fly…!!
Untuk makan malam, kami menyantap nasi bungkus yang kami bawa dari Masbagik. Lumayan praktis, karena setelah itu saya sibuk berguru fotografi (padahal cuma megangin kamera doank) sama si Ndank buat nangkep bintang-bintang yang lagi narsis-narsisnya J. (Ga tau kenapa foto bintang dari kamera saya belum bisa di-upload, sementara fotonya Ndank dulu)

Bintang-bintang (photo by Ndank)

Esok paginya kami melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun, yang katanya melewati tujuh Bukit Penyesalan. Jalur trek memang terus menanjak tapi saya masih belum merasa kehabisan napas. Sering saya katakan ke diri saya sendiri kalau jalur di depan akan lebih parah dari yang saya injak sekarang. Dan saya menggunakan teknik pernapasan seperti ini (dikasih tau Ndank): hembuskan napas dengan waktu lebih lambat daripada ketika menghirupnya. Well, saya nggak tahu di mana di antara kedua itu yang efektif, tapi saya nggak merasa mau putus jantung kayak pas nanjak Cikuray. Alhamdulillah.. Tapi ya tetep, namanya nanjak masih ada ngos-ngosannya. Tambah ngos-ngosan ketika lihat Bang Kun duduk di atas bukit sambil pamer jajanan agar-agar warna-warni yang dikasih pemilik mobil yang mengantar kami ke Sembalun. “Yo.. yang rasa jeruk, stroberi, anggur, tinggal pilih...!!” Lagi asik-asiknya makan agar-agar, eh ada monyet. Posisi nya cukup dekat dengan saya duduk. Kemudian monyet itu bergerak tiba-tiba ke arah saya. Refleks, saya mundur. Eh, monyetnya tambah berani. Walhasil, ada kontak senjata (baca:batu kecil) antara Bang Kun dan si monyet.Tapi nggak kena kok monyetnya, langsung kabur doi. Kata Bang Kun, monyet itu takut kalau kita berani. Catet!
Ini tersangkanya :p
Setelah sekitar lima jam perjalanan, jam tiga sore kami tiba di Plawangan Sembalun dan disambut hujan deras.  Hujannya nggak sebentar dan nggak lama juga #apa sih..?  dan kemudian sunset yang canntikkk banget hadir di Plawangan Sembalun. Di sebelah kiri tenda ada danau Segara Anak, tepat di depan tenda ada gunung Sengkareng beserta matahari di baliknya, dan di sebelah kanan ada gradasi warna yang uwedan: biru,jingga, pink, dan di bawahnya hamparan awan! Narasi nya sudah, nah di bawah ini visualisasinya (mata belo).

Sunset dari Plawangan Sembalun

Raul sedang memuji alam dengan caranya yang makjleb..!! (photo by Sam)
Acara hunting-hunting foto selesai ketika matahari benar-benar hilang di balik bumi. Kami lanjut makan malam setelah sebelumnya terjadi drama yang bikin mood Eling jadi hilang, yaitu doi yang nggak sengaja nginjak feses homo sapiens. Kami harus cepat-cepat pergi tidur untuk muncak tengah malam nanti. Apa daya, sekitar dua jam saya hanya bolak-balik di dalam tenda, nggak bisa tidur. Apa jadinya kalo muncak tapi nggak tidur..? Tapi untung akhirnya tidur juga. Sebelum berangkat kami makan telur rebus, roti, dan minum minuman panas yang udah disiapin trio Bang Deco, Kun, & Jamil. Kira-kira jam setengah dua kami berdoa dan memulai perjalanan ke puncak dewi Anjani, ditemani Bang Kun & Bang Jamil. Bang Deco menunggu di tenda, dan akan menyiapkan makanan untuk kami santap ketika turun nanti (masih ingat kan kalo sebenernya mereka bukan porter? #terharu).
Dilihat dari sinar-sinar lampu headlamp, sepertinya kelompok kami tim kedua yang memulai perjalanan muncak malam ini. Irene agaknya not feeling so well,, but she said she can do it! Setelah menembus hutan sekira 45 menit, tanah yang dilalui mulai berpasir dan bebatuan. Ketika lagi berhenti istirahat, lihat ke bawah, lah... masih kelihatan lampu desa Sembalun…! Padahal kan ini sudah di ketinggian dua ribu sekian dan kami udah nge-track dua hari.. hiks..
Semakin ke atas jalurnya semakin terjal. Kata teman-teman yang sebagian besar sudah ke Semeru, track pasir ini sedikit lebih mudah dari Semeru. Mungkin bisa jadi karena sehari sebelumnya hujan, jadi pasirnya lebih padat dan nggak gampang longsor waktu mereka naik Semeru. Kalau nengok ke bawah, makin banyak titik-titik putih dari headlamp yang sedang meratap naik ke puncak. Semakin ke atas, kami (baca:saya) lebih sering beristirahat. Bang Jamil, Ndank, & Raul sudah lumayan jauh ke atas daripada saya, Rifki, Aul, & Yopi. Eling, Irene, Wafiq, Sam, & Bang Kun nggak begitu jauh di bawah.  Bule-bule semakin banyak yang mendahului saya. Jejak kaki mereka besar dan mantap. Saya ikuti jejak mereka di atas pasir, lumayan mengurangi kemungkinan longsor kembali. :p

Pucuk.. Pucuk.. Pucuk...!!!! (photo by Eling)
Kira-Kira setengah jam sebelum saya mencapai puncak (dekat di mata, jauh di kaki), matahari sudah mulai merekah. Good morning sunrise! dan awan yang menutupinya..! J
Jalan lanjut terus, walaupun langkahnya Cuma timik-timik (baca: pendek-pendek). Tak kan lari puncak dikejar, hehehe…
Daaann akhirnyaaa…. Mission Accomplished…!!! :D :D
Kira-kira pukul setengah tujuh pagi, dengan rahmat Allah swt. Kaki kecil saya yang berukuran 36 ini bisa berada di puncak dewi Anjani! Disambut salaman oleh Ndank & Bang Jamil, lunas kebayar semua rintih & asa selama perjalanan. Feel relieved… Alhamdulillah
Tapi dingin banget di atas sana, padahal matahari udah terbit. Dengan nggak tau malu, saya malak jaketnya Raul yang tebel :p (dia pakai double jaket).

Satu per satu seluruh anggota tim akhirnya mencapai puncak. Saling memberi selamat dan berbagi kebahagiaan J Begitu juga dengan tim-tim lain, bule-bule saling berangkulan terharu.

Ritual wajib di atas puncak tak kami lewatkan. Bernarsis ria, mencoba mengabadikan sekejap momen yang ada di puncak Rinjani. Eling lalu mulai niup balon buat meriah-in suasana, dan dibawa ke sesi foto-foto :D

Misenkomplis yeeiy..!! (photo by Ndank)

Lanjoot ke part 3 #lap keringet

Angels in Rebels of Rinjani (Part 1)



Pertama, maafkan saya jika tulisan ini berakhir panjang, karena begitu banyak yang ingin saya tuliskan tentang perjalanan ini. Tapi, let’s see then…
Kedua? Gak ada sebenernya,, :D , tapi demi keluhuran tata Bahasa Indonesia saya perlu menuliskan kata ‘kedua’. #penting ya?
 
Tidak seperti trip nanjak sebelumnya, untuk kali ini saya memberi tau ibu kira-kira dua minggu sebelum berangkat. Sesuai prediksi dengan ilmu probability & statistika, begitu banyak wejangan dan nasihat membanjir selama dua minggu itu… 
Ibu saya termasuk orang yang jarang travelling untuk rekreasi, dan anehnya tiba-tiba jadi komentator dan kritikus handal untuk persiapan nanjak ini, termasuk mengenai porter. Mendengar jumlah kami yang bersepuluh ibu saya menyarankan menggunakan porter 2 orang untuk guide dan sweeper. Well, saya memang anak yang bandel, pesan itu Cuma saya simpan sendiri, tidak saya sampaikan ke teman-teman sesuai amanat ibu saya. Saat itu saya pikir, biasanya satu tim pendaki saja pikir-pikir untuk menggunakan satu porter, apalagi dua..? 
Dan.. jeng..jeng.. jeng… Sesuai saran yang udah nanjak sebelumnya, keputusan terakhir satu tim kami adalah menggunakan dua porter! Mom is always right!!
See you later Mommy..! saying goodbye to ibu dan empek-empeknya di rumah yang tidak mampu membujukku untuk tinggal dan gak jadi nanjak #halah

Perjalanan dimulai hari Jumat sore 31 Mei dengan travel Transline tujuan Bandung yang ada di sekitaran Tebet. Sampai di Bandung sekitar jam setengah sepuluh malam (agak lama karena macet Jumat sore, namanya juga Jakarta :p), dan si Eling berbaik hati mau jemput buat ke kosannya.  Di kosan sudah ada ada Irene yang lagi keringin sepatu pake hair dryer (kreatif Ren,, J)
Skip skip skip sampe besok pagi nya,, ehh..  ntar dulu, ada yang perlu diceritain. Jadi malemnya saya beli makan ayam goreng judulnya, pake nasi, tapi apa daya,kayaknya si bapak yang jual nggak berhasil nangkep ayamnya (baca:bapaknya lupa bungkusin ayamnya), jadi yang dikasih ke saya nasi putihnya aja plus lalapan. Vegetarian deh,, ya sudahlah hajar aja berhubung belum makan dari siang :v :v

Besoknya pagi-pagi jam setengah lima surup kita sudah cabut ke stasiun Kiara Condong, buat naik kereta Pasundan jurusan Surabaya yang berangkat satu jam kemudian. Setelah kawan kita yaitu Ndank sampai juga di stasiun kami langsung unjuk tiket ke petugas dan masuk kereta. Langit masih agak gelap ketika kereta mulai bergerak.. Bismillah.. Let’s goo..!! Yeaayy..!!

Dari semua alat transportasi yang pernah saya naikin, yang paling saya suka yaitu kereta. Nggak bikin mabuk, bisa lihat-lihat pemandangan, dan nggak keganggu sama jalan yang berlobang-lobang. Jadilah saya pagi itu nikmatin pemandangan di luar kereta. Kalo ngelewatin orang-orang yang yang lagi ngeliatin kereta, pengen rasanya bilang,” Hei, hei, kami pergi loh.. ke Rinjani..!! ke Rinjani..!!”   #penting

Selama perjalanan lihat sawah-sawah yang menguning, bukit-bukit yang terselimuti kabut tipis, membawa kesan tersendiri.  Ada suatu pemandangan di mana saya lihat sekelompok anak laki-laki dengan ceria sedang main sepak bola di tanah lapang sebelah gedung sekolah yang bertuliskan SD Cihaur Kuning, dan sekelilingnya dilingkupi persawahan dan pepohonan yang berbukit-bukit. Sungguh suatu ‘adegan’ yang menunjukkan bahwa human and mother nature can really get along, if we try. Lalu melihat jalan pedesaan di tengah persawahan seperti visualisasi  Desa Sukasari yang sering muncul di buku-buku waktu jaman saya SD, di mana there’re no wars, no cries, no riots, and no bbm naik :p. Peaceful mind.

Dari jendela kereta suasana sekitar berubah-ubah dengan cepat, dari kota yang hiruk pikuk, pinggiran kota, perumahan yang ramai,persawahan, perumahan yang sepi, hutan, terowongan, dan entah apa lagi. Saya menikmati itu semua sampai saatnya sinar matahari yang panas mulai menyorot persis di wajah.  Kami berempat mulai mati gaya berhubung tidak ada game yang bisa dimainkan. Kartu uno, dsb. nggak dibawa. Akhirnya si Eling beli buku TTS yang dijual keliling sama pedagang di dalam kereta. Lumayan ngebantu itu TTS buat ngisi waktu selain duo Eling & Irene yang karaoke-an dalem kereta, cadas bener memang..
Dimulai dari gelap sampai gelap lagi, dan kami belom sampe-sampe di stasiun Gubeng Surabaya, wow..! Jam setengah 10 malam akhirnya sampailah kami di Gubeng, dan meluncur ke tempat sodaranya Irene di daerah Waru buat numpang tidur, mandi, sama makan.. hehehe (makasih ya sodaranya Irene J)

Besoknya tanggal 2 Juni siang, diiringi hujan deras kami berempat ke bandara Juanda untuk penerbangan ke Lombok Praya. Kami naik citilink yang ternyata saya pikir punya sense of art. Sambutan yang biasanya ada dalam pesawat, ditambahi pantun oleh mereka.  “Gili Trawangan yang indah dan elok, selamat datang di Lombok!”  Well done! Tapi sayangnya kami nggak dikasih air putih… #haus men..! #crying


tiga putri minus Ndank (photo by Eling)

Setelah itu kami menuju Masbagik menumpang mobil sewaan seharga 150ribu rupiah (kayaknya harga segitu karena teman kami ada yang lebih dulu kenal sopirnya, yaitu Bang Hafiz).  Sempet mampir ke mini market buat beli logistic yang bisa dibeli malem itu (takut besok kesiangan), sampailah kami ke basecamp PAS (Pencinta Alam Syahir) Masbagik.  Di sana sudah berkumpul anggota tim lainnya yaitu Raul, Sam, Wafiq, Rifqi, Aul, dan Yopie. Kami akan bermalam di basecamp PAS ini lalu kemudian esok pagi nya meluncurke Sembalun yang jaraknya kira-kira 2 jam bermobil dari Masbagik. Di basecamp, kami disambut Bang Ocep yang langsung menggiring kami ke bagian belakang rumah di mana plecing kangkung sudah menunggu dengan rayuannya #slurp…  Plecing kangkungnya begitu nikmat diramu oleh Mba Tya (istri Bang Ocep).  Bagian sedihnya yaitu saya yang nggak tahan pedas.. Setelahnya, kami diskusi untuk persiapan besok. Hasilnya diputuskan: nggak jadi porter, ada tiga teman dari PAS yang akan menemani. J
Lanjut di part 2 ya... :)

suasana diskusi di basecamp PAS (photo by Sam)

Sabtu, 15 Juni 2013

Nge-Mie Kangkung di New Star Kopitiam


Awalnya tau ada makanan ini ketika kunjungan pertama. Karena waktu itu, dilanda lapar akut akibat belum makan seharian, sempat dilemma antara memesan Tom Yam atau Mie Kangkung ini. Demi kesejahteraan perut, akhirnya saya memilih Tom Yam, dan berjanji pada diri sendiri untuk mencoba Mie Kangkung di kunjungan selanjutnya.

Tongkrongan sih boleh ya di kopitiam, tapi minum yang saya pesan hanya teh hangat tawar. Well, whatever, saya ke sini hanya penasaran dengan Mie Kangkung nya J Mungkin lain kali saya cicip kopi nya, tapi yang ini saya tidak janji :p



Tampilannya sekilas seperti mie ayam, cukup bermiyak. Mie nya seperti mie basah pada mie aceh, tapi dengan diameter lebih kecil. Dagingnya lumayan berlimpah, ada daging sapi, ayam, udang, selain ada jamur juga.  Dan tentu nya ada si kangkung ditemani kecambah. Let’s eat..!

Rasanya ada sedikit jejak seperti Tom Yam, dan identitas masakan Asia terasa kental sekali.  Well, enak, lanjut..!! Dibandingkan mie ayam, rasanya lebih manis mie ayam. Kuahnya cukup banyak membanjiri mi, mirip dengan mie rebus yang ada di tukang nasi goreng.

Oh ya ada juga irisan jeruk purut, tapi saya gunakan sedikit saja. Untuk rasa yang lumayan cocok di lidah saya, harganya lumayan nggak miring untuk makanan berbahan dasar mie. Kisarannya Rp. 20.000an. Well, mungkin karena di kopitiam ya..? J




Selasa, 21 Mei 2013

Melipir ke Sindoro, 28-31 Maret 2013


My number 1 list terpaksa tertunda lagi. Disebabkan hujan badai di musim pancaroba dan pohon-pohon tetumbangan menutupi jalur maka jalur pendakian Gunung Semeru ditutup. Kepastian datang tiga hari sebelum tanggal jadwal kereta yang tertera di tiket yang sudah di tangan. 

Nggak begitu menyesal sih, sudah siap-siap aja dengan akhir yang begini, namanya juga lagi pancaroba J..
Tapi terus jadi bingung, rencana B yang kira-kira mau muter-muter Jawa Timur di-dislike sama teman yang lain. Setelah menggalau 2x24 jam, muncul ajakan sama si teman untuk ke Sindoro. Beranchhuutt..!!
Dari stasiun Senen, kami beriga naik kereta Matarmaja sekitar jam 3 sore jurusan Malang, tapi nanti turun di tengah-tengah, yaitu stasiun Poncol Semarang.  Baru kali ini naik kereta api jurusan yang jauh-jauh di pulau Jawa (udikk,, :p)



Sekitar pukul 11 malam, kami sampai di stasiun Poncol. Setelah sholat danbersih-bersih, kami lalu berjalan kaki ke masjid besar (lupa namanya)  yang ada di Simpang Lima. Jalan kaki? Iya jalan kaki,dengan bawa carrier dan mampir di McD, karena udah laper berat, kami sampai di masjid sekitar jam 3.

Kami tidur di teras masid dengan banyak orang-orang lain yang sepertinya dalam perjalanan juga. Sekitar jam 5 kurang, kami terbangun karena adzan subuh dan suara Bapak-bapak, “He, mas, bangun mas..!! Sholat, ini masjid! Bangun dulu, sholat. Nanti dilanjut lagi!” dengan logatnya yang medhok Jawa. Orang-orang bangun dengan kaget dan muka linglung. Agak lucu juga sebenarnya J

Pagi menjelang, pikiran baru ON. Dan ternyata ingat aku punya teman di Semarang ini, Ungaran tepatnya, yang sebenarnya bisa ‘dimanfaatkan’ supaya nggak usah jalan kaki tadi malam, hehe..
Perjalanan dilanjut naik bus ekonomi jurusan Purwokerto yang kami nanti akan turun di desa Kledung, pintu masuk langsung ke jalur pendakian Sindoro. Pemandangan selama perjalanan lumayan menyegarkan mata, melewati sawah-sawah, sungai, dan gunung Ungaran. Setelah tiga jam pantat panas duduk di atas mesin (udah syukur dapet tempat duduk) kami berhenti di depan gapura desa Kledung.

Sampai di basecamp kami rehat sejenak sambil menunggu hujan deras yang kayak benar-benar tumpah dari langit dan teman-teman lain dari Jakarta yang terjebak macet long wiken.  Tadinya beberapa dari kami berencana naik besok pagi saja, karena tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti, tapi si Om Jim ketua sukunya mengusulkan berangkat sesudah hujan berhenti saja. Dengan gabungan rekan dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya, Oke kami pun berangkat.  Tepat   di pos satu, adzan maghrib berkumandang, suasana mendung. Baru pertama kalinya ini aku trekking malam, Bismillah..!!

Jalur awal-awal, nanjak terus, napas megap-megap, udah kayak mau putus (lebay..!). Padahal sebelum berangkat tadi udah sempet tukeran carrier, karena ada yang berbelas kasihan melihat carrierku yang tinggi menjulang ( aku juga ga tau knapa bisa heboh, padahal ga ada isi yang macem-macem..). Aku ada di tengah-tengah barisan.  Duh, yang depan racing banget dengkulnya. Semampuku sajalah, dalam hatiku, sambil berjalan pelan-pelan menyambung napas satu-satu. Sekitar 1,5 jam perjalanan, napas dan kaki sudah mulai stabil, dan yang depan-depan stabil juga racingnya (Saluutt..!! padahal jalanan licin habis hujan). Tapi walupun begitu, mereka tetap menunggu kami yang di belakang ini, dan ada Om Jim setia mengiring kami di paling belakang.  Good team!

Sekitar 2 jam perjalanan, kami berpapasan dengan regu penyelamat yang membawa seseorang yang ditandu. Menurut info, karena keseleo. Wah harus lebih hati-hati nih.. Tak lama kami pun sampai di pos 3, camping area, which is masih setengah perjalanan menuju puncak. Sudah banyak yang nge-camp rupanya.
Nggak begitu laper buat makan, langsung tidur stelah sebelumnya sholat dulu. Pagi jam 4 bangun, siap-siap muncak. Dengar-dengar kabar, katanya pos 3 ini nggak aman. Jadi kalau mau muncak, harus diangkut semuanya. Ternyata ada teman yang kakinya sakit dan nggak muncak. Hikmahnya, kami bisa muncak tanpa bawa carrier.

Satu suasana yang membekas adalah, ketika langit berwarna biru dongker (habis subuh gitu) di langit masih ada bulan yang redup, di sebelah sisi lainnya matahari mulai merekah, dan dialasi dataran yang seperti savanna. Jempol empat!!
Mendaki bukit, di balik bukit, masih ada bukit lagi. Terlihat dataran yang paling tinggi hanya yang ada di depan mata, secercah harapan muncul, puncak sebentar lagi. Kabut  menghilang, ternyata masih ada bukit lagi di belakangnya, hopeless..



Setelah 5 jam perjalanan diselingi jalur trekking yang sempit, akhirnya sampai di puncak. Alhamduliiah,,
Area kawahnya gede banget, dan ternyata ada alun-alun yang cantik dan luaass banget..!! 
Setelah jepret sana sini bernarsis ria dan makan ala kadarnya (baru inget belum makan dari semalem) kami turun.  Di tengah jalan hujan deras mengguyur. Setelah terpeleset kesekian kali dan jalur trekking yang ajib, kami pun sampai di tenda.  Hujan baru berhenti setelah maghrib.
Kami menginap semalam lagi di pos 3, dan pagi nya setelah menikmati sunrise dengan latar Gunung Sumbing, kami pun turun ke basecamp. Om Jim dan beberapa teman janjut Merapi, lalu ada yang langsung balik ke Jakarta, kemudian ada yang mampir ke Solo sebelum ke Surabaya, dan aku pun memilih mampir ke Semarang, Ungaran tepatnya.



Have a nice trip fellas..!! :) 






Senin, 03 Desember 2012

Sudut Pasar


Pasar itu selalu ramai. Di kota kecil, pasar menjadi pusat pertemuan,semua kalangan, semua umur, mau tak mau. Semua tersedia, sandang, pangan, dan papan di pasar itu. Segala kebutuhan terpenuhi, tercukupi karena ketidaktahuan. Keinginan untuk memilih kebutuhan hanya muncul setelah adanya pengetahuan. Keinginan itu lah yang kadang membuat hidup lebih rumit. Pengetahuan akan pilihan kebutuhan itu biasanya muncul di kota besar, sehingga penduduk kota kecil jarang yang menderita tekanan batin akibat kerumitan menentukan pilihan kebutuhan itu.
Kembali ke sudut pasar, ada seorang lelaki tua terbungkuk menaiki tangga. Anak-anak tangga yang telah ditatapi setiap hari berpuluh tahun.
Di kiri kanan tangga itu, seorang demi seorang terduduk tersandar pada beton, menjajakan dagangannya.  Tapi itu nanti, setelah matahari berada di sepenggalan kepala.

Lelaki itu menyerahakan pada kaki nya ke mana langkah akan ditapaki. Kaki itu telah dilatih waktu untuk membawa si empunya menuju tempat di mana ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya.
Sebuah petak berbatas beton terselimuti papan-papan bergeming menatap lelaki tua yang berhenti di hadapannya. Seraya mengucapkan selamat pagi, lelaki itu mengambil kunci kecil dari kantung kemeja nya, membuka pintu kecil setinggi paha, juga terbuat dari papan.
Dibukanya satu per satu lembaran papan yang menyembunyikan ruangan di bawahnya, namun disisakanbeberapa lembar papan sebagai tempat terjajarnya barang dagangan. Setelah dialasi Koran, diletakkanya dengan cekatan namun hati-hati, bungkusan plastic berwarna putih bertotol warna krem, yang merupakan kedelai.  Bungkusan itu adalah tempe.
Lagi-lagi karena waktu, lelaki itu telah merasa bahwa tempe-tempe berbungkus plastic itu adalah anaknya, anak bungsu nya yang tak juga beranjak besar. Ia  menata tempe-tempe tersebut berdasarkan ukurannya. Di sampingnya, terselip pisau bemata tajam yang berselimut Koran, walau hanya untuk memotong tempe.
Di samping petaknya, seorang wanita tua, namun lebih muda dari nya, juga sedang menyiapkan dagangannya. Tampah-tampah berisi akar-akaran, seperti jahe, laos,dan serai dikeluarkan dari kolong papan. Tampah berisi bunga-bunga dan daun pandan mempunyai tempat tersendiri di pinggir petak. Wanita itu berceloteh ramai sambil tangannya bergerak ke sana ke mari. Tubuh yang gempal dan rambutnya yang keriting seakan turut berbincang seiring lincahnya wanita itu bergerak.
Di depan mereka, seorang ibu duduk di belakang beberapa ember besar, yang isinya adalah sahabat anak lelaki tua itu. Tahu.
Ia hanya duduk di suatu sudut, tak ada petak, tak ada papan. Telah berpuluh tahun ia di situ. Mereka di situ. Maka bolehlah dikatakan mereka adalah kolega kerja yang saling setia berpuluh tahun. Keputusan pension ada di tangan mereka, namun tak juga mereka mau menandatnganinya.
Bagian lantai dua dari pasar ini boleh dibilang sebagai panti werda karena sebagian besar diisi oleh sesepuh pasar, itu pun hanya menempati sebagian los pasar yang ada di lantai dua. Lantai dua semakin kehilangan penggemar, karena pembeli mana yang rela naik turun-tangga untuk melihat dagangan yang pilihannya terbatas.
Entah yang mana yang menjadi penyebabnya lebih dulu, pedagangkah atau pembelikah. Bisa jadi karena banyak pedagang yang enggan ke lantai dua sehingga pembeli pun menurutinya. Atau pun pembeli yang enggan ke lanatai dua sehingga pedagang menurutinya. Di lantai satu, area pasar meluas hingga ke pinggir-pinggir jalan, lapak-lapak kecil, khas tipikal pasar tradisional. Suasananya selalu semarak, daun-daun hijau segar di atas keranjang bamboo atau dihamparkan di pinggir jalan, warna warni buah menyolok pandang, ribut mulut-mulut berunding harga, sambil terdorong ke sana ke mari, dan kadang dikagetkan dengan teriakan orang “awas, air panas!”, tapi hanya kardus yang dijunjungnya. Benar-benar hidup!
Lantai dua, suasananya seperti umur para penghuninya, diam menunggu waktu. Warna-warna yang ada pun seragam.  Sederhana, sama dengan prinsip hidup penghuninya. Sederhana namun setia.
Sang lelaki tua sudah menjalani hidup yang lurus. Ia melakukan apa yang kebiasaan perintahkan kepadanya. Biasa jika lelaki itu menikah, biasa jika lelaki itu bekerja, biasa jika ia berdagang, biasa jika ia harus berkeliling kampong menjajakan tempe yang tak habis di pasar, biasa jika hanya berobat ke mantri, biasa jika sepedanya dicuri orang, biasa jika harus mebuat tempe hingga lewat tengah malam, biasa jika tempe yang tak laku menjadi busuk,  biasa jika ikut kenduri di rumah tetangga, biasa jika anak-anaknya saling merengek, biasa jika istrinya pergi mendahuluinya.
Lelaki tua, wanita bertubuh gempal, dan wanita penjual tahu adalah rekan kerja yang memiliki keterikatan. Sahabat, orang menyebutnya masa kini. Dari obrolan hari ke hari, berpuluh tahun, telah saling diketahui seluk beluk masing-masing keluarga.
Tetapi sebenarnya, selain dari mereka bertiga, ada seorang lagi sahabat bagi mereka, roh pasar itu. Walau lebih nyata kehidupan di lantai satu, namun roh pasar lebih suka di lantai dua. Di tempat itu ia dapat berkumpul dengan sahabat-sahabat sejak kecil ia tumbuh. Lain dari sahabatnya, roh pasar tidak punya saudara atau keluarga. Keluarganya adalah penghuni pasar lantai dua. Ia bebas meyusup ke orang-orang tua yang berbincang, berleha di langit-langit yang bersawang dan kadang dikagetkan oleh burung wallet yang menyambar.
Sang lelaki tua lupa sejak kapan ia menyadari kehadirannya. Yang pasti roh pasar selalu mendampinginya di pasar ini. Roh pasar menemaninya saat ia tercenung merenung di hadapan anak-anaknya, saling bercakap tentang hal yang paling massiv, hidup. Mereka berdua membayangkan kilas balik hidup mereka, meruntuti jejak-jejaknya hingga sampai pada saat ini, terkadang sambil bertanya pada Tuhan. Namun mereka setuju untuk tidak menuntut Tuhan.
Sambil menyeruput kopi yang baru diantar penjaga warung makan, lelaki tua itu tersenyum dan mengatakan betapa nikmatnya kopi itu. Sayang, roh pasar hanya dapat menghirup baunya  saja.

Sang roh pun kini telah tua, walaupun tak ada yang pernah tahu kapan roh akan mati. Namun roh pasar merasa tua. Ia merasa kulitnya semakin kerput ketika melihat los-los pasar yang kosong. Ia merasa los –los itu adiknya yang kini menatapnya kosong tak berdaya.
Namun, demi melihat los-los itu ditiduri lelaki-lelaki mabuk tak berguna yang berkeliaran di pasar, papan-papannya dijadikan medan judi, ia merasa adiknya diperkosa! Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Ia merasa rambutnya turut memutih mengikuti lelaki tua ketika terpaksa membiarkan pilar-pilarnya dijadikan tameng lelaki tak beradab untuk kencing.

Tak sekali sahabat-sahabat roh itu membantu dengan menegur lelaki dengan otak di lutut itu, namun sebagai akibatnya lelaki itu membawa teman-temannya, preman kelas kambing, sangat menunjukkan siapa dirinya.

Mungkin orang-orang tua memang ditakdirkan kalah. Orang-orang berdehem, mengangguk surut. Saatnya orang-orang muda berbicara. Begitu yang kerap terdengar, terbaca, di mana-mana. Orang-orang tua itu semakin bingung dengan orang muda,  artinya, kemauannya, dan perilakunya. Berbagai peristiwa telah terlewati oleh orang-orang tua itu, namun yang paling sulit dipahami mereka adalah orang-orang muda  yang menyebut diri saudara.

Beberapa bungkus tempe yang tersisa sudah merajuk manja meminta pulang. Mungkin mereka sudah tahu akan tanda-tanda  waktu senja, atau mungkin mereka sebenarnya takut dengan burung-burung wallet yang semakin banyak berkelebatan hinggap di langit-langit pasar. Pulang.

Sang lelaki tua menuruni tangga dengan satu kantung plastic tempe yang belum terjual. Di kanan kiri beberapa penjual sudah mulai membereskan dagangan, sisir plastic yang berjari tajam,cermin kecil, sisir serit untuk menyisir kutu rambut, sandal plastic aneka ukuran aneka warna. Tapi masih ada beberapa pedagang pula yang masih tekun menajajakan dagangannya berupa segenggam cabai merah sedikit busuk, segenggam bawang merah-putih yang kehitam-hitaman, sisa tumpahan perjalanan dari truk ke los pasar, atau yang memang disisakan oleh pedagang besar.

Sampai  di luar pasar, jalanan agak padat oleh kendaraan, suasana yang lain dari biasanya. Sebuah kendaraan alat berat berwarna kuning merayap di jalan pasar, diikuti oleh motor-motor yang meliuk-liuk di belakangnya. Tanpa bertanya, dari para tukang becak, lelaki tua tahu alat-alat berat itu akan digunakan untuk menebang pohon beringin yang merindangi para penjual makanan mencari rezeki di seberang pasar, malam ini.
Untuk apakah perlunya pohon itu ditumbangkan? Lelaki tua itu bertanya dalam hati. Seorang tukang becak mengabarkan akan dibangun sebuah mall di seberang pasar. Lelaki tua melihat wajah-wajah resah mereka yang melihat kendaraan alat berat itu, termasuk tukang becak di dekatnya. Entah resah karena kemacetan langka ini atau hal lain menyangkut sesuatu berbunyi ‘mol’ itu, pikir lelaki tua itu.Kedengarannya seperti sesuatu yang mengancam.
“M..mol itu apa?,” lelaki tua bertanya kepada tukang becak yang menatap nanar ke tengah jalan. 





Tertinggal



Akhirnya aku menemukan kesan sejati yang tertinggal di hatiku ketika membaca berita itu. Beritu tentang kecelakaan lalu lintas. Seorang pengendara motor tewas karena tenggelam di got saat terjadi hujan deras.
Banyak yang terlintas sepintas secepat kilat, saling berkelebat di kepala saat membaca keseluruhan berita. Sedikit lucu dan konyol, bukan? Sedalam apakah got yang dapat menenggalamkan orang? Dan got? Terbayang air hitam yang mengalir deras saat hujan lebat di Jakarta ini. Tapi, sungguh mengerikan jika kita melanjutkan tertawa ketika membaca berita kematian. Tak diketahui identitas sang pengendara. Aku mempertanyakan di awang-awang bagaimana si pengendara dapat jatuh ke dalam got. Apakah dia tidak melihat got yang seharusnya sungguh sangat besar sehingga dapat menenggelamkannya? Jawab akalku, mungkin air got meluap sangat banyak sehingga menggenang seperti banjir dan si pengendara tidak sadar ia akan menuju lubang kematiannya. Mengapa ia tidak lompat saja ketika merasa motornya akan jatuh?  Ia, termasuk aku, tentu tidak menyangka hidupnya akan berakhir di tempat yang sangat, boleh dibilang, sepele. Kematian dapat datang di mana dan kapan saja, teman.
Pada berita diceritakan, saksi mata melihat sang pengendara jatuh  bersama motornya dan langsung hilang tergerus arus deras. Ini juga membuatku sedikit terkejut. Ternyata ada saksi mata, mengapa si pengendara tidak tertolong? Akalku menjawab, tentu tidak sesederhana itu. Kondisi lapangan dapat membuat otak dan hati menjadi tidak akur. Dan kebanyakan otot-otot tubuh akan selalu berpihak pada si otak. Seperti pemilu, dua pun menang dari satu. Korban yang tak terselamatkan tentu bukan alasan kita untuk musuhi saksi mata , walaupun aku bertanya-tanya usaha apa yang mereka lakukan untuk menolongnya. Usaha itu mungkin saja ada, mungkin saja tidak.
Asumsiku, got dibuat lebar dan masih sampai meluap, tentu tempat tersebut sangat padat pertokoan atau rumah tinggal sebagai akibat strategisnya tempat tersebut. Pasti jalanannya sangat ramai. Jalanan sangat ramai. Aku membayangkan di tengah hiruk pikuk hujan deras, kemactan motor dan mobil memburu pulang ke rumah sehabis kerja, seseorang hilang di keramaian. Dan hidup mengucapkan selamat tinggal padanya.
Maksudku, yang selama ini kuketahui, banyak sebab orang meninggal. Sakit keras, kecelakaan yang mengakibatkan trauma akut pada organ tubuhnya, ataupun tiba-tiba saja meninggal. Ada juga orang meninggal tenggelam di laut, di sungai, dan di kolam renang. Sangat mudah diterima karena tentu sangat sulit dan jarak terlalu jauh untuk menolongnya. Tetapi di kejadian ini, mungkin saja ketika si pengendara jatuh,setengah meter di sebelahnya, ada orang lain juga. Aku bukan menyalahkan saksi mata kenapa tidak menolongnya. Aku tidak melihat kondisi sebenarnya. Yang aku camkan bahwa tragis sekali ia tidak tertolong pada kondisi yang secara logika manusia seharusnya ia dapat terselamatkan. Benar, bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari kematian walaupun berlindung di benteng yang kokoh, memiliki badan sehat, dan tangan orang lain untuk berpegangan.
Pada keramaian petang ber-hujan, ia terpisah dari rombongan kemacetan, ia terpisah dari hayatnya. Orang-orang yang lalu lalang mungkin akan behenti, bertanya, lalu bersedih, dan kemudian melanjutkan perjalanan. Dan ia tetap tertinggal.